Khitanan di Kasultanan Yogyakarta

Kota Yogyakarta sebagai kota Budaya memiliki tradisi khitanan yang unik dan berbeda dibandingkan dengan kota yang lain. Tradisi keraton masih kental mempengaruhi prosesi khitanan di Yogyakarta. Tradisi keraton khitanan (supitan) terdiri dari lima upacara yang harus dilaksanakan oleh anak dan keluarga pemangku hajat khitanan. Rangkaian upacara yang dilakukan adalah Majang, Tarub, Siraman, Ngabekten dan Gres. Saat mengadakan upacara khitanan, peralatan yang disiapkan adalah sebagai berikut :
  1. Krobongan yaitu ruang yang berbentuk segi empat ditutup dengan kain sutra putih dimana didalamnya terdapat sebuah kursi dan sesaji 
  2. Puthutan atau biasa disebut songkok 
  3. Baju bludiran tanpa lengan, buro, gelang kono, karset rantai bros, elebut, kalung sungsun, ode kollonye, saputangan, unjuan, cengkal perak, dan kain prada (kain dengan motif Nyamping Parang Kusumo).
Upacara yang dilakukan merupakan upacara yang memiliki arti dan tujuan yang sakral, rangkaian upacara tersebut yaitu sebagai berikut :
  1. Majang berasal dari bahasa jawa artinya yaitu menghias. Majang asal kata dari pajang, kemudian kata tersebut mendapat akhiran “-an” dan menjadi pajangan. Alat-alat yang diperlukan untuk majang antara lain, bleketepe, yaitu daun kelapa muda yang dianyam, walaupun tidak semua atap dipasangi bleketepe artinya “wes tumplek blek ukete” (erat dan rukun). Maksudnya keluarga yang rukun saling membantu dan selalu berhubungan erat. 
  2. Tarub adalah memasang tambahan “eyub-eyub”(tempat berteduh). Selanjutnya tarub ini dihiasi janur kuning. Janur kuning yang digunakan sebagai hiasan tarub tidak boleh digantung tapi harus disobek kecil-kecil atau dihilangkan lidinya. Tarub ini dihiasi dengan tuwuhan (tumbuh-tumbuhan) yang juga dilengkapi dengan seperangkat makanan. Bermacam-macam tumbuhan itu mengandung arti kemakmuran tanaman atau harapan kemakmuran bagi si anak di kemudian hari. 
  3. Siraman air kembang dengan harapan anak tersebut bersih dari segala noda baik lahir dan batin. Dengan didampingi oleh para bandara putri termasuk ibu dari putri raja, saudara perempuan, dan putri-putri kerabat Keraton yang dipimpin oleh bendara putri yang lebih muda sampai seterusnya. Siraman dilakukan dalam satu hari sebelum upacara gres. 
  4. Ngabekten yaitu sungkem atau menghaturkan sembah kepada orangtua. Hal ini melambangkan pernyataan terima kasih kepada orangtua atas segala asuhan dan bimbingannya sampai saat ia dikhitan bahkan ia telah dewasa, serta mohon doa restu agar sukses dan bahagia terutama saat khitanan.  
  5. Gres yakni saat pemotongan kulup anak. Prosesi ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian acara. Upacara ini berlangsung pada pagi hari, sebelumnya anak yang akan dikhitan disuruh berendam didalam air beberapa lama, agar waktu gres darah tidak banyak mengalir. Dalam upacara ini, putra Sultan yang akan dikhitan didampingi oleh penganthi. Seorang pangeran yang bertugas mendampingi putra Sultan mulai dari hendak menuju pekobongan hingga kembali ke Kasatriyan lagi. Adapun sang pemangku merupakan seseorang pangeran yang diberi tugas memangku putra raja pada saat disunat.
Apabila prosesi khitanan sudah selesai semua, Sultan kembali ke Bangsal Kencono diiringi para Pangeran, kemudian seorang nerpa cundaka diutus pergi ke Bangsal Manis, tempat menyiapkan hidangan. Setelah itu, maka putra Sultan yang habis dikhitan tadi diperintahkan kembali ke Kesatriyan dengan diantar oleh para pengampil untuk beristirahat. Para putra Sultan bersama para Pangeran Pemangku (Penganthi) berjalan menuju Kesatriyan diiringi ampilan seperti semula ketika menghadap. Kemudian Sultan memerintahkan untuk membubarkan pasowanan, Sultan sendiri masuk ke dalam puri dan yang lain pulang kembali ke rumah masing-masing.

Sumber: Disarikan dari beberapa sumber

Berlangganan artikel terbaru via e-mail :

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel