Usia Paling Tepat Sunat Anak Laki-laki menurut Medis

usia sunat anak


Sunat merupakan tindakan bedah tertua dan paling sering dilakukan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sunat dilakukan bukan hanya perintah agama saja, tetapi telah direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia yaitu WHO untuk menjaga kesehatan alat kelamin pria. Rekomendasi tersebut bukan tanpa alasan, namun karena beberapa penelitian telah membuktikan bahwa sunat mampu menurunkan risiko penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS dan juga risiko akan fimosis, parafimosis, infeksi saluran kemih berulang pada anak, balanitis, dan phostitis. Oleh karena itu, untuk menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin, setiap pria dianjurkan untuk melakukan sunat.

Sunat dari segi medis untuk anak-anak lebih mudah dilakukan, karena kulup masih tergolong elastis, jadi memudahkan dokter saat melakukan tindakan. Berbeda dengan sunat dewasa yang memiliki kesulitan lebih tinggi, dalam proses penyembuhannya pun juga tergantung faktor usia. Selain itu, sunat pada orang dewasa, setelah sunat pasien bisa mengalami ereksi, sedangkan anak-anak relatif tidak mengalami ereksi, walaupun terjadi ereksi namun ereksinya tidak keras. 

Untuk persiapan sebelum sunat relatif sama antara anak dan dewasa, untuk pria dewasa tidak perlu cek kesehatan kecuali ada penyakit diabetes atau ada riwayat pernah sakit hepatitis atau HIV. Apabila ada riwayat penyakit, maka ada persiapan khusus dari tim medis. 

Beberapa pakar khitan dunia seperti dr. Veedat dari Turki dan dr. Mahdian dari Indonesia menyarankan melakukan tindakan sunat lebih baik saat masih bayi sebelum usia 6 bulan. Hal ini disebabkan karena bayi umur 0 sampai 6 bulan, proses penyembuhan relatif sangat cepat karena pertumbuhan sel bayi yang begitu cepat akan membuat penyembuhan luka menjadi mudah pada saat bayi.

Berikut ini 3 alasan bayi sebelum usia 6 bulan harus disunat :

1. Menurunkan terjadinya Fimosis dimana fimosis terjadi pada 40 persen bayi baru lahir
Fimosis merupakan keadaan dimana didapatkan adanya penyempitan ujung kulit penis atau peradangan lubang pada kulit penis. Pada anak laki-laki fimosis dapat menyebabkan infeksi. Agar tidak terjadi fimosis, disarankan bayi untuk segera disunat agar tidak mengalami fimosis.

2. Menghindari dampak traumatik pada anak
Pada bayi usia sebelum 6 bulan, bayi belum dapat merasakan banyak hal dibandingkan dengan anak yang disunat saat SD atau SMP. Tanpa disadari anak yang disunat menderita dampak traumatik terhadap tindakan medis. Hal ini memang tidak berlaku pada anak yang telah siap melakukan sunat atau anak yang merasa bahagia saat disunat. Akan tetapi, untuk bayi sudah pasti tidak terjadi trauma psikis akibat tindakan medis.

3. Bayi belum bisa tengkurap
Oleh karena bayi belum bisa tengkurap, maka bayi belum merasakan adanya gesekan-gesekan yang dapat membuat luka sunat berdarah.

Konsultasi Khitan Bayi Yogyakarta :
   Yan Khitan Jogja
   dr. Cahya 081 174 533 88

Berlangganan artikel terbaru via e-mail :

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel